Abu Ubaidah ibnul Jarrah R.A

 

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kelak di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujaadalah ayat 22).
Kisah-hidup-Abu-Ubaidah-ibnul-Jarrah
Menurut beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenan dengan Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Ibnul Jarrah adalah seorang panglima, cerita kemenangan dan suksesnya menjadi pembicaraan dunia. Ia adalah seorang yang mengesampingkan gemerlapnya dunia yang palsu dan menerjunkan dirinya kedalam berbagai medan perang mencari mati syahid, tetapi selalu saja Allah memberinya hidup. Dia seorang yang kuat yang dapat dipercaya, yang pernah dipilih oleh Rasulullah Saw, menjadi guru di Najran dan salah seorang diantara sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga. Dia adalah seorang panglima yang pernah memohon kepada Allah supaya hari terakhirnya ditentukan ditengah-tengah tentaranya. Allah berkenan mengabulkan permohonannya itu.
Itulah garis-garis besar kepribadian Amiinul Ummah “kepercayaan umat Islam,” Abu Ubaidah ibnul Jarrah, penyebar kalimat “Allahu Akbar” di negeri Syam dan sekitarnya. Ada orang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Bagaimana dengan Ibnul Jarrah?”.
“Rahimahullah Dia seorang yang selalu berwajah cerah, baik akhlaknya dan seorang pemalu,” jawab Abdullah.
Sejarah tidak mencatat masa-masa mudanya bersama dengan rekan-rekan sebayanya, tetapi sejarah merekam semua langkahnya ketika menuju ke Baitul Arqam, bergabung dengan kelompok orang-orang Mukmin yang telah memilih Islam sebagai agamanya, beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, dan menerima Muhammad Saw sebagai nabi dan Rasul-Nya.
Menurut sejarah, Ibnul Jarrah tergolong orang pertama yang menyambut seruan Islam. Ia bersama beberapa orang rekannya; Utsman bin Mazh’un, ‘Ubaidah ibnul Harits bin Abdul Muthalib, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Salamah bin Abdul Asad, pergi menemui Rasulullah Saw, sebelum beliau membuka sekolah dan dakwahnya di Darul Arqam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membentangkan apa-apa yang berkenan dengan agama itu, lalu mereka menerima tawaran itu dengan puas dan ikhlas. Sejak saat itulah, ia dan rekan-rekannya itu menjadi manusia baru, seakan-akan terputus hubungannya dengan manusia lama yang bergelimang kejahiliaan dalam keyakinan dan penyembahan berhala.
Pada waktu kaum Quraisy memaklumkan perang terhadap kelompok orang mukmin yang tiada berdaya dan berdosa, dengan melakukan pengejaran dan penyiksaan diluar batas kemanusiaan, Rasulullah Saw, memberikan izin kepada kelompok itu berhijrah ke Habsyah. Diantara para Muhajirin yang menyelamatkan agamanya dari keganasan kaum Quraisy itu ialah Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.
Meskipun sambutan dan penerimaan raja Habasyah sangat baik terhadap mereka, mereka diterima dengan hormat dan didekatkan dari majelisnya, semua kebutuhan dan hajat keluarganya dipenuhi, baik moral maupun material, namun semua itu tidak berarti bagi mereka dari pada kehidupan di dekat Rasululah Saw, setiap hari mengikuti pelajaran dan bimbingannya, dalam upaya mempertebal keimanannya. Tidaklah heran, ketika mereka mendengar berita bahwa telah dicapai kesepakatan antara Muhammad dan kaum Quraisy, berita gembira itu membangkitkan semangat mereka untuk segera pulang kembali ke Mekkah tanpa mengecek kebenarannya lagi. Setibanya mereka disana, mereka malah mendapat penyiksaan yang lebih ganas dari kaum Quraisy, sampai ada diantaranya yang tewas oleh dendam hitam yang memenuhi lubuk hati musuh terhadap tunas dakwah yang baru merintis itu.
Akibat teror ganas kaum Quraisy itu, penduduk kota Mekkah hidup dalam ketakutan dan kegelisahan yang tiada terperikan. Ibnul Jarrah tak lama tinggal di Mekkah, begitu pula rekan-rekannya yang lain. Kaum Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berhasil keluar menembus kepungannya dan pergi berhijrah ke Yatsrib, tempat yang dijadikan model dan landasan bertolaknya Islam dan kaum Muslimin, negara tempat menggembleng para pahlawan, negerawan, alim ulama yang akan dilepaskan keseluruh penjuru dunia untuk membimbing dan memimpin umat manusia ke jalan Tuhan Yang Maha Satu, dengan rasa puas dan ikhlas.
Jalan antara Mekkah dan Yatsrib menjadi saksi ketika Ibnul Jarrah melepaskan kendali kudanya menapak bumi dan bersaing dengan angin, mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya ke Yatsrib. Ketika sampai dihadapan Rasulullah Saw di Madinah, ia hampir tidak dikenal lagi karena debu padang pasir yang ditempuh tanpa henti hampir menutupi wajahnya. Setiba di sana, ia disambut baik oleh Rasulullah Saw dan dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az. Sa’ad bin Mu’az adalah orang yang telah  mempersembahkan diri dan harta bendanya di jalan Allah dan tidak sudi berkompromi dengan kaum Yahudi, sesudah mereka mengkhianati perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama Rasulullah Saw, sehingga ia terluka parah dalam perang Ahzab. Ia memohon kepada Allah Ta’ala agar jangan dimatikan sebelum matanya puas melihat Yahudi Bani Quraizhah dihukum. Ternyata, Allah mengabulkan doanya. Bani Quraizhah menolak keputusan Rasulullah Saw, dan minta diputuskan oleh Sa’ad bin Mu’adz, bekas sekutu mereka. Akhirnya, Rasulullah Saw, meminta supaya Sa’ad memberikan keputusannya. Diputuskanlah, semua laki-laki Bani Qurauzhah dibunuh, kaum wanita dan anak-anaknya ditawan dan harta bendanya dirampas.
Rasululah Saw, berkomentar atas keputusan Sa’ad itu, “Engkau telah memberikan keputusan dengan hukum Allah dari atas langit yang ketujuh.” Sejak menginjakkan kakinya di Yatsrib, sejak itu pulalah Abu ‘Ubaidah menganggap bumi itu sebagai tanah air agama dan dirinya yang harus dipertahankan mati-matian. Ia melakukan tugas kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak pernah absennya di semua peperangan bersama dengan Rasulullah Saw. Dalam perang Badar, ia selaku tentara, harus senantiasa patuh kepada perintah panglimanya. Sebagai seorang mukmin, ia mempunyai pandangan, sikap dan garis tegas yaitu bahwa semua yang berperang dibawah panji Rasulullah Saw yang mengucapkan kalimat tauhid, mereka adalah saudara, keluarga dan kawan-kawannya, meskipun berbeda asal-usul, warna kulit dan darahnya. Semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka, mereka adalah musuh aqidah dan lawan dirinya, meskipun mereka keluarga terdekatnya.
Dengan logika dan pemahaman seperti itu terhadap aqidah dan agamanya, dan perannya sebagai seorang mukmin, maka ketika ia melihat ayahnya ikut menghunus pedang ditengah-tengah  pasukan kaum musyrikin, membunuh saudara-saudaranya sesama mukmin, majulah ia menghampirinya, tetapi ayahnya menghindarinya. Walaupun demikian, ia mengejarnya dan memberikan pukulan yang mematikan. Ayahnya adalah kafir, menyekutukan Tuhannya dengan yang lain; kafir terhadap Tuhan Yang menciptakannya; ia mengangkat senjata hendak menumpas agama Tuhannya dan para pendukung agama tersebut. Oleh karena itu, ia sudah tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Siapa yang hidupnya dudah tidak berguna bagi Tuhannya niscaya tidak berguna juga bagi seluruh umat manusia.
Dalam perang Uhud, ketika peperangan itu sudah mencapai puncaknya, dimana pihak musuh sudah berhasil mengepung ketat Rasulullah Saw dan menjadikan beliau sebagai sasaran tunggal anak panah dan senjata lainnya, Abu Ubaidah dan beberapa orang rekannya menghunus pedangnya untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan ganas musuh sehingga darah mengucur dari wajah beliau dan beliau mengusapnya dengan tangan kananya seraya mengucapkan, “Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya terluka wajahnya?”.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu melukiskan peran yang dimainkan Abu ‘Ubaidah dalam perang Uhud itu,”pada waktu itu, Rasulullah Saw terkena dua kali bidikan anak panah pada tulang pipinya, lalu aku segera pergi menghampirinya. Ternyata dari sebelah timur ada orang lain yang mendahuluiku, menghampirinya dengan cepat pula. Aku berkata, “Ya Allah, jadikanlah hal itu sebagai kepatuhan kepada-Mu.”
Sesudah itu, sampailah aku di dekat Rasululah. Aku melihat Abu ‘Ubaidah sudah sampai terlebih dahulu, lalu ia berkata, “Ya Abu Bakar, aku mohon kau membiarkan aku melepaskan panah itu dari wajah Rasululah!” Aku membiarkan Abu ‘Ubaidah melepaskan mata anak panah itu dengan gigi depannya dan ia berhasil mencabutnya, tetapi terjatuh ke tanah dan giginya pun patah. Selanjutnya, ia mencabut mata anak panah yang kedua hingga gigi depannya yang satunya patah juga. Sejak itu, Abu ‘Ubaidah ompong gigi depannya. Dalam perang Dzatus Salaasil. Rasulullah Saw menugaskannya memimpin pasukan para sahabatnya (diantaranya Abu Bakar dan Umar) sebagai bala bantuan untuk Amru bin Ash. Setibanya pasukan itu, Amru berkata kepadanya, “Ya Abu ‘Ubaidah, kau didatangkan sebagai bala bantuan untuk pasukanku.”
Abu ‘Ubaidah menjawab, “Tidak. Aku dengan pasukanku dan kamu dengan pasukanmu, masing-masing memimpin pasukannya.” Amru bin Ash menolak adanya banyak pemimpin, ia tetap mengangap pasukan Abu ‘Ubaidah yang baru datang itu harus ada di bawah pimpinannya sebagai bala bantuan. Abu ‘Ubaidah berkata, “Ya Amru, Rasulullah Saw, melarangku, kalian berdua janganlah berselisih! Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu!” Alangkah indahnya kata-kata dan sikapnya itu?” Alangkah jujurnya kata-kata itu dalam nilai kejantanan seseorang, “kalau kau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu,” pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin dan agama Islam menuntut persatuan dan kekompakan.
Pada suatu waktu, datanglah utusan dari Najran kepada Nabi Saw meminta supaya bersama mereka dikirimkan seorang pengajar agama, mengajarkan hukum-hukum syariat kepada mereka, dan merangkap sebagai penengah (hakim) apabila terjadi perselisihan diantara mereka. Rasulullah Saw berjanji kepada mereka, “nanti malam, kalian datang kembali, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya.”
Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, “aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu pada waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasululah Saw itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Saw zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah ibnul Jarah, lalu beliau berseru; “kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya.” Demikian keterangan yang jujur dari Umar ibnul Khaththab.
Rasulullah Saw bersabda, “Tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.” Tepat sekali sabda Rasulullah Saw itu, ibnul Jarrah adalah seorang kepercayaan dalam akhlaknya, tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya. Ia kepercayaan dalam agamanya, ia berusaha keras menggalakkan dakwah secara merata. Ia kepercayaan dalam memelihara batas-batas negara sehingga semua pihak menghargai kewibawaan dan kekuasaannya. Bagaimana tidak demikian, dia adalah salah seorang dari sepuluh orang pertama yang masuk Islam dan salah seorang dari sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga. Sesudah Saw wafat, banyak orang yang datang hendak membai’at Abu ‘Ubaidah menjadi khalifah, tetapi ia menjawab, “apakah kalian datang kepadaku sedangkan ditengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga.”
Yang ia maksudkan adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar di Gua Hira, “Di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah ayat 40).
Pada waktu itu, Umar ibnul Khaththab radhiallahu’anhu termasuk salah seorang yang datang kepadanya, seraya berkata, “ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kau, hai kepercayaan umat, seperti dikatakan Rasulullah Saw.” Abu ‘Ubaidah menjawab, “belum pernah aku melihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaitku, sedangkan Ash-Shiddiq, sahabat kedua Rasululah Saw, di Gua Hira, ada ditengah-tengah kita?” Rupanya teguran Abu “Ubaidah itu menyatakan Umar. Ia lalu mengirimkan orang untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, Ummul Mukminin, lalu ketiganya pergi ke Saqifah Bani Saaiidah. Setibanya disana, mereka mendapatkan kaum Anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar bertanya keheranan,” ada apa ini?” Mereka menjawab, “dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata; “para amir dari kami dan para wazir (menteri) dari kalian.” Sambutnya lagi, “Aku setuju kalau kalian mengangkat salah seorang diantara dua orang ini; Umar Ibnul Khaththab dan Abu “Ubaidah, kepercayaan umat ini.” Kedua orang itu menyatakan, “Tidak mungkin ada seorangpun yang mengungguli kedudukanmu, ya Abu Bakar!”. Keduanya lalu membaiatnya. Itulah para pengikut dan sahabat Muhammad, yang telah mendapatkan gemblengan Al-Qur’anul Karim dan mendapatkan rintisan tata cara hidup melalui petunjuk dan pengajarannya.
Suatu waktu, Umar ibnul Khaththab radhiallahu’anhu selaku khalifah Islam mengangkat Abu ‘Ubaidah menjadi komandan pasukan kaum Muslimin di Syam, menggantikan Khalid bin Wahid. Pada waktu itu, Khalid sedang ada di medan perang menggempur musuh-musuh Islam. Ia tidak segera memberitahukan berita pengangkatnnya dan pemecatan Khalid itu, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya. Sesudah Khalid mendengar berita pemecatannya dan pengangkatan Abu ‘Ubaidah sebagai pengantinya maka dalam serah terima jabatan itu, Khalid berkata, “kini, telah diangkat untuk memimpin kalian kepercayaan umat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah”.
Abu ‘Ubaidah menyambut perkataan itu, “aku mendengar Rasululah Saw bersabda, “Khalid adalah salah satu dari pedang-pedang Allah, ia pemuda idaman.” Itulah jabatan kepanglimaan, tetapi tidak menyombongkan mereka. Itulah kepangkatan dan jabatan tinggi dunia, namun mereka tidak lupa daratan karena risalah atau misi mereka terbatas dan tugas mereka jelas, seperti yang dikatakan Rabi’ bin Amir, “Allah telah  mengirimkan kami untuk mengeluarkan orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya, dari mengabdikan diri kepada hamba-Nya kepada pengabdian diri kepada Allah semata.” Kalau jabatan dan kepangkatan tidak bisa menggiurkan dan menggugurkan mereka, begitu pula dengan bujuk rayu dunia lainnya.
Pada suatu waktu, Umar ibnul Khaththab mengirim uang kepada Abu ‘Ubaidah sebesar 40.000 dirham dan 400 dinar, lalu ia berpesan kepada pesuruhnya, “perhatikan apa yang dilakukannya.” Sesudah uang itu dibagi-bagikan, pesuruh itu melaporkan kepada khalifah Umar. Umar berkata; “Alhamdullillah, yang menjadikan dalam kalangan kaum muslimin orang yang melakukan hal itu.” Ketika khalifah Umar datang ke negeri Syam, ia dijemput oleh para perwira militer dan pejabat sipil. Ia bertanya,”mana saudaraku?” Mereka bertanya keheranan, “siapa dia, ya Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Abu ‘Ubaidah.” Mereka menjawab, “Ia segera datang.” Tak lama, ia datang dengan menunggang seekor unta, lalu ia memberikan salam kepada khalifah. Khalifah lalu memerintahkan para penyambutnya pulang kembali dan membiarkannya bersama Abu ‘Ubaidah. Keduanya pergi ke rumah Abu ‘Ubaidah. Setiba di sana, Khalifah Umar tidak melihat sesuatu apapun selain pedang dan perisainya. Umar bertanya kagum,” mengapa kau tidak memiliki sesuatu?”.
Abu ‘Ubaidah menjawab, “Ya Amirul Mukminin. inipun akan menghantarkan kita ke tempat peristirahatan kita.” Umar tidak melihat perabotan dan perhiasan mewah dirumahnya karena ia bukan seorang yang senang duduk-duduk di rumah, tetapi seorang lapangan yang selalu memandang jauh kepada apa yang ada di balik kehidupan ini. Adapun orang-orang yang suka bergelimang dalam kesenangan hidup, mereka sudah terperangkap jaringan setan yang sulit untuk membebaskan dirinya. Dia tahu menempuh jalan hidup dunia menuju perumahan kehidupan abadi di akhirat. Kalau demikian watak keras dan kuat Abu ‘Ubaidah menghadapi kehidupan ini, mendalam pengertiannya menempuh hidup dan menghadapi orang hidup, konskuen mempertahankan kebenaran, maka dengan sendirinya ia tidak akan sudi berkompromi dengan kebatilan dan bermanis-manis dengan kecurangan, tidak peduli kedudukkan dan asal-usul seseorang yang dihadapannya.
Pada suatu hari, Jabalah ibnul Aiham, raja Ghassan, masuk Islam, sesudah menerima baik surat Rasulullah yang mengundangnya untuk menganut agama itu. Pada suatu waktu ia berjalan di pasar kota Damaskus, tiba-tiba kakinya menginjak kaki Muzniah, lalu ia langsung menampar Jabalah. Muzniah lalu digiring kepada Abu ‘Ubaidah untuk diadili. Mereka berkata; “tuan Hakim, orang ini telah menampar raja Jabalah.”
“Dia harus ditampar juga!”
“Apa tidak di bunuh?”
“Tidak.”
“Apa tidak dipotong tangannya?”
“Tidak, Allah memerintahkan dilakuan qishash, ditindak sama dengan perbuatannya.”
Jabalah berkata, “apakah kalian mengira aku mau menjadikan wajahku perumpamaan bagi wajah nenek moyangku?” Ia lalu murtad kembali menjadi Kristen dan pergi menyeberang bersama kaumnya ke negeri Romawi
Negeri Syam hampir seluruhnya ditaklukkan, tinggal beberapa buah benteng musuh yang masih dipertahankan. Ketika pasukan Islam di bawah pimpinan penglimanya, Abu ‘Ubaidah, hendak memulai pertempuran baru untuk merebut benteng-benteng yang masih dipertahankan musuh itu, tiba-tiba terjadi serangan penyakit menular hebat dikalangan pasukan kaum muslimin. Mendengar berita mengerikan itu, Khalifah Umar ingin menyelamatkan Abu ‘Ubaidah dari cengkereman maut itu, lalu ia menulis surat memerintahkan supaya ia keluar dari negeri itu. Isi surat itu antara lain.
“Salam sejahtera kepadamu, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu, harapanku apabila engkau menerima suratku ini supaya cepat-cepat datang menghadapku!”
Abu ‘Ubaidah paham maksud Khalifah itu, lalu ia membalasnya, “Ya Amirul Mukminin, aku sudah paham maksudmu. Aku ada ditengah-tengah pasukan kaum muslimin, tidak bermaksud mengutamakan keselamatan diri atau memisahkan diri dari mereka, hingga Allah menentukan apa yang Dia kehendaki terhadapku dan mereka, dan bebaskanlah aku dari tawaran dan harapanmu itu !”. Abu ‘Ubaidah rahimahullah wafat karena penyakit menular itu pada tahun 18 H dalam usia 58 tahun. Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Kalau usia Abu ‘Ubaidah lanjut, aku akan mengangkatnya menjadi penerusku. Kalau Allah bertanya, atas dasar apa kau mengangkatnya, aku akan menjawab, “aku pernah mendengar Nabi-Mu mengatakan “Dia kepercayaan Umat ini.”

Sebab Turunnya Ayat

Firman Allah. “Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu ayah-ayah, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanankan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya.” (Al-Mujaadalah ayat 22).
Dikatakan diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah radhiallahu’anhu ketika ia membunuh ayah kandungnya dalam perang Badar. Ada lagi sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada sekelompok orang Islam pertama, yang mengatakan dengan tegas bahwa ikatan aqidah bagi mereka lebih utama dari pada ikatan keturunan dan keluarga. Bagi mereka, ikatan aqidah merupakan ikatan berbagai macam warna kulit, bangsa dan kedudukan, dihimpun dalam suatu kekeluargaan yang saling mengasihi dalam wadah umat, dibawah pimpinan Nabi Saw dan bimbingan kalamullah, Al-Qur’anul Karim.
Mereka mengatakan juga bahwa firman-Nya, sekalipun orang itu ayah-ayah, “diturunkan berkenaan dengan Abu’Ubaidah ibnul Jarrah ketika ia membunuh ayah kandungnya sendiri, dan kalimat” atau anak” Diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu ketika ia mengejar anaknya sendiri, Abdurrahman bin Abu Bakar, hendak membunuhnya; dan kalimat,”…ataupun keluarga mereka..” diturunkan berkenaan dengan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu yang membunuh keluarganya sendiri dalam perang itu. Juga diturunkan berkenaan dengan Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali Thalib dan ‘Ubaidah ibnul Harits, semuanya telah bertarung dalam perang itu dan membunuh keluarganya sendiri, antara lain; Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan al-Walid bin Utbah.
Sebagai pelengkap dari ketegasan sikap iman kaum muslimin itu, ketika Rasulullah Saw, bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap para tawanan perang Badar itu, Abu Bakar Shiddiq mengusulkan, “mereka diberi kesempatan menebus dirinya, untuk memperkuat dana perjuangan kaum muslimin dan juga mengingat mereka masih merupakan sanak keluarga. Diharapkan sikap lunak itu akan menggugah hati mereka menemukan hidayah Allah.” Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berpendapat, “aku tidak sependapat dengan yang lain, ya Rasulullah! Berikanlah kesempatan kepadaku membunuh keluargaku sendiri. Ali sudah berhasil membunuh saudaranya sendiri, Aqil, Si fulan sudah membunuh keluarga karibnya sendiri untuk dibuktikan kepada Allah bahwa dalam hati kita tidak terdapat lagi keakraban dan rasa kasihan dengan kaum musyrikin.” Setelah percakapan itu, turunlah ayat tersebut.