Kisah 2 Orang Sahabat Anshar dan Muhajirin

Setibanya Nabi SAW dari suatu peperangan, beliau bangun mendirikan shalat malam. Beliau bersabda, “Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini ?” Maka, Ammar bin Yasir ra dari Muhajirin dan Abbad bin Bashar dari Anshar berkata, “Kami siap berjaga malam.” Nabi saw memerintahkan mereka agar berjaga-jaga di sebuah bukit yang terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang.
Kisah-2-Orang-Sahabat-Anshar-dan-Muhajirin
Keduanya pergi ke bukit tersebut. Sesampainya disana, pemuda Anshar itu berkata kepada saudaranya dari Muhajirin, “Mari kita bagi malam ini menjadi dua bagian, bagian malam pertama, aku yang berjaga dan kamu beristirahat. Dan bagian kedua, kamu yang berjaga dan saya yang beristirahat.
Maka, malam ini dapat dijaga bergantian. Jika terasa ada musuh yang datang, kita berdua berjaga, bisa-bisa kita berdua mengantuk.” Maka, pemuda Anshar mendapatkan jaga bagian pertama, dan pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas, Abbad mendirikan Shalat. Ternyata, seorang musuh mengintainya. Kemudian, dari jarak jauh ia membidikkan anak panahnya ke arah Abbad.
Tetapi, ia masih berdiri tegak, tidak bergoyang sedikit pun. Melihat hal ini, musuh pun melepaskan lagi anak panahnya, tetapi ia tetap berdiri tegak.
Musuh kembali melepaskan anak panahnya yang ketiga. Ketiga-tiganya menancap di badan Abbad. Kemudian Abbad mencabut ketiga anak panah itu dengan tangannya. Setelah tercabut, ia meneruskan shalat, ruku, dan sujud dengan tenangnya. Selesai Shalat, Abbad membangunkan kawannya.
Seketika, musuh segera melarikan diri dan ia tahu berapa banyak lagi tentara Islam di situ. Ketika Ammar bangun, dilihatnya badan Abbad penuh darah, dengan bekas tiga anak panah tertancap di tubuhnya. Ammar berkata kepada Abbad, “Subhanallah, kenapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?” Jawab Abbad, “Ketika aku Shalat tadi, aku mulai membaca Surah Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku sebelum menyelesaikan surah ini. Tetapi, aku pun memperkirakan bahwa jika aku dipanah terus-menerus, aku bisa mati, dan tugas dari Rasulullah saw untuk menjaga beliau tidak dapat ditunaikan.
Saya mengkhawatirkan keselamatan Nabi saw. Jika tidak, aku akan menyelesaikan bacaan surah itu sebelum ruku, walaupun aku terpaksa harus mati dipanah musuh.”
Hikmah :
Shalat merupakan interaksi antara seorang Muslim dengan Allah SWT. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah setiap Muslim berinteraksi dengan Allah SWT dilakukan dengan khusyuk, karena shalat sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber : Maulana Muhammad Zakariyya, Fadhilah Amal
Iklan