Kisah Abu Dujanah R.A dan Pengorbanannya

Sebelum perang Uhud dimulai, Nabi Muhammad SAW bermaksud menggelorakan semangat pasukannya. Beliau mengangkat pedang tinggi-tinggi, serasa berkata, “Siapakah di antara kalian yang ingin memegang pedang ini, dan memberikan sesuatu yang pantas baginya?” Selesai Rasulullah SAW bersabda, kontan satu dua orang di antara pasukan segera ke depan. Salah satu di antaranya bernama Abu Dujanah, seorang lelaki pemberani sekaligus taat kepada Allah. Dia bertanya, “Wahai Rasul, apa yang patut bagi pedang ini, dan bagaimana kami dapat memberikannya?”
kisah-abu-dujanah-dan-pengorbanannya
Nabi Muhammad SAW menjawab, “Anda memanfaatkan untuk bertempur sampai pedang ini melengkung.” Mendengar jawaban itu, Abu Dujanah dengan sigap menyambut mantap, “Saya bersedia membayarkan yang patut baginya.” Dujanah pun lantas mengikatkan kain “sapu tangan kematian” di kepala. Ia berjalan seperti harimau, bukan karena sombong dan arogan, tapi akibat gembira diberi kehormatan menggenggam pedang “kepercayaan” yang diulurkan Rasulullah SAW. Dengan berbekal tekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan dan dengan ba’iat untuk bertempur sampai titik akhir kehidupan, selama pertempuran Abu Dujanah akhirnya menempatkan diri tak jauh dari Rasulullah SAW. Pedang berkelebat kiri kanan memangsa nyawa manusia. Dengan gigih ia menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup bagi Rasulullah SAW. Banyak anak panah menancap di punggung. Namun, seolah tiada dirasa atau barangkali tidak terasa, kalah oleh rasa cintanya kepada Rasulullah SAW dan kerinduannya kepada Syahadah. Suatu kali, akibat pasukan panah melanggar perintah Nabi Muhammad SAW, kekuatan Islam terbalik menjadi tersudutkan. Sebagian malah ada yang mundur, melarikan diri. Sedangkan, Rasulullah SAW bersama Ali telah dikepung rapat oleh pasukan Quraisy. Abu Dujanah juga kewalahan menghadapi musuh yang merangsek kesetanan. Saat itulah, mata Rasulullah SAW jatuh pada Abu Dujanah, yang setengah mati berusaha melindungi Rasulullah SAW. Darah mengucur hampir menutup setiap senti tubuhnya. Melihat kondisi Abu Dujanah yang tampak payah, Rasulullah SAW bicara keras, “Wahai Abu Dujanah! Saya membebaskan anda dari ba’iat. Biarkan Ali saja yang tinggal bersama saya. Sebab Ali adalah dari saya, dan saya dari Ali.” Mendengar pernyataan Rasulullah SAW, Abu Dujanah bukan gembira lega akibat lepas dari belenggu ba’iatnya. Dia malah menangis sedih seraya berkata, “Wahai Rasul, kemana saya harus pergi? Haruskah saya pergi ke rumah yang pada akhirnya pasti akan runtuh? Mestikah saya pergi kepada istri, yang pada akhirnya nanti pasti akan mati? Perlukah saya lari kepada harta dan kekayaan yang pada gilirannya juga akan musnah? Haruskah saya lari dari maut yang suatu saat pasti akan datang?” Ketika melihat air mata bercucuran membasahi pipi Dujanah, Rasulullah SAW mengijinkan bertempur bersamanya. Abu Dujanah dan Ali akhirnya tetap bersama melindungi Rasulullah SAW dari serangan dahsyat pasukan Quraisy.

Hikmah dari Kisah Abu Dujanah

Nabi Muhammad SAW memang seorang panglima yang canggih dalam mengatur strategi, cerdas dalam membangkitkan “emosi”, dan lihai dalam membangun militansi. Beliau memang cerdas, sesuai dengan sifat wajib yang ada padanya: fathonah alias pintar. Proses membangun militansi Abu Dujanah hanya melalui simbolitas pedang adalah contoh yang sangat apik (baik), satu dari sekian cara yang pernah diperlihatkan Rasulullah.
Dengan kepercayaan “simbolitas” menerima pedang dari Rasulullah, militansi Abu Dujanah meluao persis bak banteng ketaton (terluka) tak takut mati. Ia telah mendapat kepercayaan apalagi dari utusan Ilahi. Siapapun orangnya yang memperoleh kepercayaan, berarti ia telah diperhitungkan. Siapapun yang diperhitungkan, berarti ia mendapatkan kehormatan. Dan, siapa pun yang mendapat kehormatan, ia akan menjaga kredibilitas dan kualitas sesuai dengan kehormatan yang diberikan. Pemberian kehormatan merupakan stimulus terkuat dalam membangun sebuah sikap dan image apapun alasannya. Penghormatan bernuansa Ilahi, menstimulasi semangat juang yang juga bernuansa Ilahi. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi tak takut mati. Itulah yang dialami Abu Dujanah.
Iklan