Kisah Alqamah Sahabat Nabi SAW

 

Peristiwa bersejarah pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw. Alqamah adalah salah seorang sahabat yang sangat gigih dalam berjihad. Taat melaksanakan shalat, berpuasa dan membayar zakat. Seluruh sahabat memberikan kesaksian bahwa Alqamah termasuk dalam katagori sahabat yang sholeh. Ketika dia akan meninggal, sakitnya terasa semakin parah, maka istrinya memnita seorang sahabat agar menjumpai Rasulullah saw.
kisah-alqamah-sahabat-nabi
Sahabat itu berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Alqamah dalam keadaan naza’ (sakaratul maut) yang sangat berat. Maka kami bermaksud meminta kepada tuannya agar berkenan menuntun Alqamah membaca kalimat Tauhid.”
Kemudian Rasulullah Saw mengutus sahabat Amar bin Yasir.  Bilal bin Rabah dan Shuhaib. Ketika mereka samapi ke rumah Alqamah, dijumpainya dalam keadaan koma. Dan mereka pun buru-buru menalqinkannya membaca “LAAILAAHA ILLALLOOH.” Tetapi bibir Alqamah terkunci, tidak bisa terbuka sama sekali.
Oleh karena itu, segera mereka mengutus seseorang untuk menjumpai Rasulullah Saw, maka beliau bertanya: “Apakah Alqamah masih mempunyai orang tua?”
Orang itu menjawab: “Ya, benar dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua.”
Selanjutnya Nabi Muhammad saw, segera mengirim utusan untuk menemui ibu Alqamah yang sudah lanjut usia. Utusan itu dipesan agar berkenan kiranya ibu Alqamah datang menghadap Rasulullah atau beliau yang datang kepadanya karena ada suatu kepentingan. Dan ibu Alqamah ternyata bersedia datang menghadap beliau.
Ketika sampai di hadapan Rasulullah, maka sang ibu diajak berbincang-bincang sekitar anaknya. Ibu Alqamah menjawab.
“Sesungguhnya Alqamah anak yang baik, sangat rajin beribadah.” Akan tetapi, Rasulullah Saw menangkap isyarat lain. Beliau merasa bahwa terjadi sesuatu di antara mereka, sehingga mengakibatkan Alqamah sulit ditalqin (dituntun) untuk membaca kalimat tauhid.
Karena di dorong oleh rasa ingin tahu permasalahan yang sebenarnya, maka Rasulullah Saw terus mendesak dan bertanya; “Wahai ibu, berkatalah apa adanya, jujurlah kepadaku. Sebab jika tidak, niscaya wahyu Allah akan datang. Sebenarnya bagaimanakah kondisi dan keadaan Alqamah.” Akhirnya sang ibu menjawab sambil terbata-bata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya  dia adalah anak yang baik, rajin berpuasa, banyak melakukan shalat sunnah dan senang bersedekah. Tetapi saya sangat membencinya.”
Rasulullah Saw pun bertanya; “Mengapa demikian?” Ibu menjawab: “Karena dia terlalu memanjakan istrinya. Mendahulukan kepentingannya dari pada diriku. Dan bahkan ia berlaku maksiat kepadaku.” Lalu beliau berkata: “Nah karena kutukan ibu ini menyebabkan Alqamah terkunci lisannya, tidak bisa membaca kalimat tauhid.”
Kemudian Rasulullah Saw, memerintahkan kepada Bilal agar mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Sang ibu sangat heran dan bertanya kepada Rasulullah; “Wahai Rasulullah, untuk apa kayu bakar ini?” Beliau menjawab;” Untuk membakar Alqamah.”
Sang ibu kaget bukan kepalang, lalu berkata “Wahai Rasulullah, jangan lakukan itu. dia adalah anakku, permata hatiku yang sangat aku sayangi. Aku tidak akan tega melihat tubuh anakku termakan oleh ganasnya api yang membakarnya di depan mataku.”
Rasulullah berkata, “Wahai ibu Alqamah, sungguh adzab Allah lebih pedih dari pada siksaan di dunia ini. Dan bahkan lebih kekal. Oleh karena itu, jika sekiranya kamu menghendaki agar Allah SWT memberikan ampunan kepada Alqamah, maka maafkanlah kesalahannya kepadamu. Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, shalat yang di dirikan, puasa yang dilakukan serta sedekah yang dikeluarkan sama sekali tidak ada gunanya dan manfaatnya, selama  engkau masih dendam dan memurkainya”.
Akhirnya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan hati, sang ibu menjawab; “Baiklah wahai Rasulullah, aku memaafkan seluruh kesalahan anakku, dan mulia saat ini aku ridha terhadap apa yang dilakukannya.”
Selanjutnya Nabi Muhammad Saw segera memerintahkan Bilal agar kembali menjenguk Alqamah. Belum sampai masuk ke rumah. Bilal telah mendengar Alqamah membaca “Laa illaha Illal Laah.” Dan akhirnya Alqamah kembali menghadap Allah Swt dengan ampunan iman Husnul Khatimah.
Setelah mengebumikan Alqamah, Rasulullah Saw bersabda: “Laknat Allah ditimpahkan ke atas orang yang menyusahkan ibunya. Kutukan para malaikat dan kutukan seluruh manusia juga ditimpakan keatasnya. Allah SWT tidak akan menerima ibadah fardhunya maupun ibadah sunnahnya selama ia tidak bertaubat dan tidak mentaati ibunya. Hendaklah ia berusaha menyenangkan ibunya sedapat mungkin. Keridhaan Allah terletak pada keridhaan ibunya dan murka Allah terletak pada kemurkaan ibunya.”
Kisah di atas dapat kita jadikan pelajaran yang berharga dan kita ambil manfaatnya. Karena mendurhakai dan menyakiti hati orang tua, orang yang menghadapi sakaratul maut terjauh dari karunia besar untuk mengucapkan kalimat Tauhid. Tetapi  dengan keberkahan dan perhatian  Nabi Muhammad SAW atas kehendak Allah ibu tersebut memaafkan anaknya, barulah setelah dimaafkan, ia dapat mengucapkannya.
Jika kita ingin menyelamatkan iman kita, maka dengan melaksanakan perintah orang tua, kita akan mudah mengucapkan kalimat tauhid pada saat sakaratul maut, sehingga kita berhak masuk surga. Untuk menyelamatkan iman kita, hendaklah kita menjauhi perbuatan durhaka kepada orang tua.
Oleh Abu Khalid, MA