Kisah Ummu ‘Amir, Pahlawan Wanita

 

Kendati Islam tak mewajibkan wanita berjihad dalam medan laga, namun tarkh (sejarah) Islam sempat mencatat kisah wanita pemberani yang sempat ikut berperang dalam Perang Uhud pada era Rasulullah SAW. Namanya Ummu ‘Amir yang tak lain adalah Nasibah seperti ternukil dalam kisah sebelumnya.

kisah-ummu-amir
Ummu ‘Amir dan beberapa wanita yang sejiwa memback-up (mendukung) anggota keluarga pria mereka yang turut berjihad (menjadi mujahid). Kaum wanita mempunyai tugas utama memberi air kepada yang haus, mencuci pakaian kotor, dan merawat yang terluka. Namun, Ummu ‘Amir tampaknya tak merasa cukup dengan pekerjaan utamanya.
Alhasil, tatkala tentara Islam terpukul mundur, dan banyak prajurit yang kabur, Ummu ‘Amir justru bangkit semangatnya. Ia meletakkan kantong air, lantas mengambil parang atau pedang untuk menghalau musuh-musuh tentara Islam. Ummu ‘Amir bercerita, “Ketika aku melihat tentara Islam melarikan diri dari peperangan, aku berteriak kepadanya: tinggalkan perisai dan pedangmu. Orang itu melepaskannya, dan aku memungutnya lantas aku menggunakannya untuk bertempur.”
Keadaan kian genting, tentara Islam kalang kabut akibat tentara panah melanggar perintah dan siasat Rasulullah SAW. Saat itu Ummu ‘Amir melihat Rasulullah dalam bahaya. Ibnu Qumi’ah, seorang prajurit musuh, berteriak-teriak penuh arogansi mencari Rasulullah SAW, “Dimana Muhammad ?”
Qumi’ah akhirnya mengenali Rasulullah, lantas menyerbu dengan pedang terhunus. Ummu ‘Amir dan Mus’ab segera menghadang Qumi’ah. Pukul memukul terjadi, namun Ummu ‘Amir terjengkang akibat pukulan keras dan hampir mematikan. Bahunya terluka akibat sabetan pedang.
Rasulullah SAW melihat adegan ini, lantas memanggil salah satu putra Ummu ‘Amir agar membalut luka ibunya. Setelah dirawat sejenak, seolah tak mengenal rasa sakit, Ummu ‘Amir bangkit lagi, menghadang musuh yang hampir semua terdiri dari kaum lelaki. Kekuatan semangatnya mengatasi “kelemahan” tubuhnya sebagai wanita.
Akhirnya, gantian salah satu putra Ummu ‘Amir yang terluka, oleh karenanya Ummu ‘Amir istirahat untuk membalut luka putranya. Selesai membalut luka putranya, langsung ia memerintahkan, “Bangkitlah kembali wahai putraku, bertempurlah lagi kamu.” Ummu ‘Amir sendiri setelah membantu membalut luka tentara lainnya, ia pun bangkit dan mengambil pedang, lantas bertempur lagi.
Nabi Muhammad SAW sangat bangga dengan keberanian “Singa betina” ini. Oleh karenanya Nabi lantas menunjukkan kepadanya, orang yang telah melukai putranya, “Itulah orang yang memarang putramu, wahai Ummu ‘Amir.” Wanita itu bangkit, menyerang, dan berhasil menghantamkan pedang ke betis lawannya. Melihat adegan ini, baru pertama kali Nabi Muhammad SAW tertawa sampai gigi paling belakang kelihatan. Kepada wanita ini pula akhirnya Nabi mendoakan seperti permintaan si wanita sendiri agar ia dapat berbakt kepadanya di surga nanti.

Hikmah dari Kisah Ummu ‘Amir

Jihad bagi orang beriman memang sangat menjanjikan, karena tak ada balasan kecuali surga atau hidup mulia, Isy kariiman aumut syahidan. Namun, perlu dicatat bahwa jihad melawan kezaliman (nahi munkar) tak semua harus dengan perang, melainkan ada beberapa tingkatan. Pertama, melawan kezaliman dengan kekuasaan (tangan), seperti terjun dalam perang, bergabung dalam laskar jihad. Kedua, melawan kezaliman dengan ucapan, yakni mengecam kezaliman lewat seminar maupun tulisan. Ketiga, melawan kezaliman dengan diam diri, namun hati membenci kezaliman tadi. Kendati cara terakhir ini wujud dari selemah-lemahnya iman, namun ketiga cara ini sama-sama dibolehkan. Oleh karenya satu sama lain tak boleh saling menyalahkan. Satu-satunya orang atau kelompok yang patut dicaci, atau bahkan diperangi adalah mereka yang berpihak (ucapan apalagi perbuatan) kepada pelaku kezaliman.
Bagi orang yang keimanannya pada posisi tertinggi, jihad level pertama menjadi pilihan utama. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan kecuali mati di jalan Ilahi. Baginya tak ada yang menggiurkan kecuali mendapat surga yang telah dijanjikan. Orang model ini tak lagi berkalkulasi pada kelemahan diri, karena kekuatan iman telah mampu menutupi kelemahan diri bahkan ketakutan diri, seperti diperlihatkan Ummu ‘Amir tadi. Ia memang wanita, yang secara lahiriah memiliki tubuh lebih lemah dibanding tentara pria. Ia seorang tua, anak-anaknya telah dewasa, yang secara lahiriah memiliki badan lebih ringkih dibanding tentara-tentara muda. Tapi kekuatan iman telah menutupi semua kelemahan, sehingga ia tampil dengan kekuatan prima. Itulah kekuatan iman, yang daya pancarnya seperti air bah, tak mampu dibendung apalagi ditaklukkan, bahkan tak takut pada kematian.

Berilah komentar anda !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s